Friday, March 26, 2010

kehormatan dalam foto

Hari minggu itu seperti biasa saya dan istri tercinta mendapat panggilan untuk memotret sebuah keluarga didaerah ciganjur jakarta selatan. Yah untuk bulan yang sepi ini tentu kami sangat semangat untuk berjalan. Kerjaan yang saya dapat dari deringan telepon ini saya ambil tentunya dengan perjuangan. Perjuangan dalam tawar-menawar harga dengan klien baru, yang dapat ditebak tentu kemenangan ada pada pihak klien. Memang sulit untuk menjadi juru foto di jaman ini. Tapi itu tak berpengaruh bagi saya untuk memberikan hasil foto yang terbaik, walau hasil rupiahnya pun juga harus kami bagi lagi dengan pemilik modal.
Dengan jumlah nominal yang tidak seberapa itu, kami memulai langkah di pagi hari pukul 8. Masih dengan kijang butut kami berangkat dari studio. Sempat terpikir bahwa klien ini memang bukan orang yang memiliki uang yang banyak, dilihat dari caranya menawar harga yang saya berikan. Setelah tiba di depan rumahnya, ternyata beliau memang orang yang pintar dalam hal tawar-menawar. Rumah besar, halaman yang luas dengan sebuah saung di tengah2nya, beberapa ekor anjing yang cantik menggonggong manis sesaat setelah kami masuk. Salah satu anjingnya bernama marco.. hehe, dan saya sangat terpesona dengan anjing itu, kecuali dengan baunya mungkin. Seorang penjaga pun membukakan pintu untuk kami, lalu mengabarkan bahwa pemilik rumah sedang pergi beribadah minggu, jadi kami pun menunggu sembari mempersiapkan alat2 kami.
Beberapa saat kemudian mereka datang dan dengan ramah tamah meminta kami untuk masuk dan menunjukkan titik dimana pemotretan kami akan dilaksanakan. Setelah selesai mendirikan studio ajaib kami, sang klien berkata bahwa kami masih harus menunggu datangnya anggota keluarga dari Riau dan Cilegon. Mereka hanya datang untuk melakukan sesi pemotretan ini. Ada tujuh keluarga tepatnya, 4 diantaranya berdomisili di jakarta telah siap kecuali perempuan-perempuan mereka yang sedang menyiapkan rambutnya di sebuah salon yang saya pun tidak tau dimana. Satu keluarga berdomisili di amerika dan sedang mudik ke indonesia saat itu. ya, karenanya lah sesi pemotretan ini dilakukan. Karena jarang sekali keluarga tersebut berada di tanah air, mungkin 5 tahun sekali.
Setelah menunggu hampir tiga jam lamanya, akhirnya keluarga tersebut pun berkumpul semua dan sesi pemotretan pun dimulai. Ramai anak kecil yang berlari-lari sempat membuat saya khawatir dengan alat-alat kami, karena kabel-kabel lampu banyak liar bertebaran di lantai. Pemotretan pertama dimulai dengan pemilik rumah dan keluarganya. Dilanjutkan dengan sosok terhormat ayah dan ibu mereka.
Disinilah letak pembicaraan saya dengan sang ayah tersebut yang membuat saya terdiam sejenak. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin foto yang saya ambil ini lah yang akan menemaninya kedalam kubur nanti, karena dia percaya kepada saya. Woow.. Bila sebuah foto hasil karya saya itu digantung indah di ruang tamu, kamar tidur atau disimpan rapih di dalam album itu sudah sangat membanggakan bagi saya pribadi. Bagaimana dengan karya saya yang dibawa mati dan dipelukkan erat bersama jasad didalam kubur, bagi saya itu adalah 'woow..'.
Saya pernah membaca sebuah artikel tentang kelebihan sebuah media fotografi dengan media-media berdasar visual lainnya. Karena pikiran saya tidak pintar, maka saya nyatakan bahwa saya lupa dengan penulisnya, hehe.. Artikel tersebut mengatakan bahwa, 'Mengapa fotografer harus berani mahal..!! Karena dari semua media yang ada, fotografi adalah karya yang sangat fleksibel, real dan monumental terutama untuk kepentingan pribadi. Pada hari tua apakah sesorang akan sempat menunjukkan karya video kepada orang lain atau anak cucunya moment-moment indah ketika ia menikah..? Belum lagi ketika ia sedang berada pada posisi dimana memutar sebuah video adalah tidak mungkin seperti di jalan dsb. Apakah seseorang harus membawa sebuah lukisan kemana-mana untuk mengingat kembali orang yang dicintainya..? Tentu tidak..! Akan tetapi fotografi berbicara lain. Sebuah foto dapat diletakkan pada ruang-ruang kecil yang mudah dijangkau hingga dinding besar sebuah hotel mewah. Dalam dompet, dashboard mobil, saku celana, kamar mandi, meja kerja yang sempit dan penuh dengan barang-barang tak berguna, komputer, telepon seluler, cd, dvd, bahkan dengan tekhnologi saat ini kita dapat mencetak foto di atas kaos, mug dsb. Mmm, begitu besar esensi fotografi kah..?
Dalam karya fotografi (yang saya khususkan disini dengan foto potret) akan selalu ada dua pihak kepemilikan didalamnya. Pertama adalah sang fotografer itu sendiri dan orang-orang yang terdapat didalamnya. Keduanya saling membutuhkan, dan keduanya saling menghasilkan. Karena itu keduanya saya rasa harus saling menghormati. Dan menurut saya sang Ayah telah menunjukkan lebih kehormatan tersebut kepada saya untuk mengambil fotonya. Karena beliau pemikiran dan wacana saya pun bertambah dalam menghargai sebuah foto dan segala hal yang terlibat didalamnya.
Setelah pemotretan dengan sang Ayah tersebut, sesi-sesi dengan keluarga yang lainpun berlanjut hingga selesai dengan baik, kurang lebih dua jam lamanya. Kemudian kami pun pergi dengan sejumput wacana akan harapan dalam menjalani profesi di bidang fotografi.. :)
Walaupun di dunia digital ini peran fotografi dalam bidang kenyataan atau forensik sudah tidak seperti dahulu lagi kemutlakannya, namun fungsi media ini tetap menjadi suatu hal yang terbaik dalam pendokumentasian visual.

daus adrian

Thursday, March 25, 2010

WHO ARE 'THEY..'?

the extra-terrestrial portrait

It starts from my friendship with the photographic industries in the last couple of years at my country Indonesia, where I have been forced to do and visualize public desire.

I've saw the high energy of will and obsession of alteration by the public self aesthetic in a photography image, in a short word: every photos must been edited, and every body want it that way. Off course it brings a good and positive images for the result and to increase a convidence value to the people. But how if that energy just end up in a piece of photography papper..?, and you know it's not real..!!



A Changes or a revolution is a normally happened to human life, in fact it is gonna happened sooner or later anyway. The social culture is like a flowing water. A lot of sociologic said that the alteration of social culture is influent by the external and internal factor of society and personality. It's bring a hugh opportunities for the express mobility. The alteration system of society that use to be a traditional agrarian people are turning into a super instant modern people (specially here at my home in Indonesia). Sociologiest Max Webber said that the alteration of social culture is a situation alteration by the society as an impact of the absurdity elements.
If it's related to the photographic industry, the elements are about self aesthetic. By how you make people to look much better, more beatifull and even to change the person into somebody else. The soft white face, the atlethic and sexy body, beautifull black hair, comforting and expensive view, montage a person image that not suppose to be there, clean up the tuxedo, until we landed on a new universe where all the time and space does'nt mean so much anymore. It's really magical..., how a photograph this days has transform the god's will of human. With it's cyber and digital process, into a piece of physical photographic papper, through all the simplicity of modern creative technology.



To me as a worker that very loyal to this industries, those things like that is elicit the sense of creating a new charachters. Those character, if I could say is not gonna be like the client order, as it were far away from the phisycall human character. With a little bit of imagination, I was trying to visualize about the arrival of this extra-terrestrial creatures into the human social society.

It maybe not gonna be like E.T movie, where the alien was lost at this earth, and be chased by the government that try to tak advantage from it. The creatures in my work come to fulfill the human call to help by seeking their human self-confi. The self-confi that has lost their meaning by the emergence of new aesthetic values.

Sunday, March 14, 2010

Friday, March 12, 2010

Reconstruction


Even an angel's need to be constructed

mudik

















Badan yg sakit ini tetap memaksakan diri untuk pergi. ya jelas, karena saya tidak dapat hidup tanpa mereka.

minggu itu menjadi salah satu hal terberat yang saya alami. bagaimana tidak, biasa kami setiap malam bercengkrama dan tertawa, makan nasi bungkus yg dibagi sama rata, dan bila malam saya juga selalu dibangunkan oleh suara tangis yg kemudian saya susulkan dengan kegiatan mengisi botol kosong..









Kalian memang yang terbaik untuk saya, terimakasih para cintaku..

gw akan selalu berusaha untuk menjadi yg terbaik buat kalian semua
love u