Wednesday, November 17, 2010

In Bed

ini tentang bagaimana Anda mengintepretasi suatu realita yang artifisial dalam imaji fotografi pada layar publik.

Hunting Season

Ini adalah tentang bagaimana kita mampu merespon suatu imaji fotografi dalam ruang publik.. :D




Friday, October 15, 2010

Thursday, October 07, 2010

Ulang Tahun Matahari 2010



Hari ini 2 tahun yang lalu, mungkin saya dan istri saya masih gelisah menunggu. Ruang dan waktu saat itu memang hanya kami yang miliki berdua, dan tuhan pasti ingat itu..

Nuansa rumah mungil nan kusam yang dipenuhi 3 kamar kosong dan belasan mungkin puluhan sarang laba-laba tersebut masih selalu ada disini. Kami hanya berdua, karena hari raya lebaran tahun itu datang bersamaan dengan masa-masa penantian surga kecil kami datang ke dunia. Seluruh teman yang bersama kami sehari-hari banyak yang telah meninggalkan jogja menuju tempat mereka masing-masing. Rental DVD pun kami untungkan banyak, dengan jumlah penyewaan kami yang sudah melebihi batas kemampuan manusia untuk menonton..

Sarung kain, televisi, DVD player, berpak-pak gudang garam, kompor dengan persediaan 1 dirijen 5 liter minyak tanah, tiga buah bak tumpukan baju kotor, gitar dan beberapa alat perekam digital, kamera canon eos 350D yang kami pinjam paksa terhadap teman kami bernama ‘gigi’ karena kamera saya pun telah masuk sekolah yang katanya mampu “menyelesaikan masalah tanpa masalah”, hasil lab rumah sakit yang hanya membuang-buang uang kami, makanan ringan, meja sablon dan kasur yang kami pindahkan ke ruang tengah agar dapat merasakan lebih luasnya ruangan di rumah bertembok biru itu. Dan tentunya perut besar berisi kebahagiaan yang menanti sambutan hangat dari kami.

Jogja, Oktober 2008

Yaah, setidaknya itulah gambaran keseharian kami berdua saat menunggu matahari lahir.

Telah lebih dari 10 hari ketika dokter bertitle S.PG itu menaklukan takdir akan kelahiran anak kami, akhirnya istri saya pun berkata, “Yank, air.. ketubannya..??”, tanpa ekspresi kepanikan sama sekali. Dan lagi-lagi sang vespa super biru bar molor saya menobatkan dirinya sebagai pahlawan dengan mengantarkan saya mencari taksi. Tidak mudah untuk mencari taksi, karena lokasi rumah kami yang tepat berada disisi jalan lingkar selatan jogja yang banyak dilalui oleh kendaraan-kendaraan lintas kota. Saya pun harus berputar dua kali, dan dapat..!! Taksi yang tak berwarna (karena saya tidak ingat apa warnanya :p) tersebut meluncur cepat ke rumah sakit yang berada di tengah kota hijau itu.

Jam dua siang kami sampai dengan membawa beberapa hasil lab yang tidak terpakai tadi. Ketika kami memasuki ruang bersalin, istri saya pun langsung dibaringkan pada tempat tidur dan saya dipanggil oleh seorang suster yang berwajah matrelialistis itu. “Pak, mau dikamar apa..?”, katanya. “Kalau VIP 750rb, kelas 1 500rb, kelas 2 350rb dan bangsal 150rb semalam..”. “Kelas 2 aja dulu” saya langsung menjawabnya. “Kelas 2 penuh, saya daftarkan di kelas 1 aja ya”, katanya tanpa berpikir, ngapain ya nawarin saya kalo udah penuh.. hehe, memang Indonesia..

Satu jam lewat, istri saya minta makan.. Diberilah makan oleh suster yang menjaga. Tanpa membawa pakaian / peralatan menginap lainnya, kecuali kamera pinjaman, saya menunggu duduk disebelah ranjang dimana istri saya terbaring. Kemudian seorang dokter datang dan bertanya pada suster/bidan yang ada sembari tangannya menggerayangi istri saya. Dia berkata, “baguuus, ditunggu aja mas. Ini saya kasih pemacu, Cuma kalau dalam dua jam tidak lahir operasi ya”. Tapi kami tetap percaya bahwa surge kami pasti akan keluar dengan manusiawi hehe.. :D.

Jam setengah empat sore itu, istri saya pun mulai bertambah keluhannya. Bidan yang berjaga ditempat itu pun bersiap-siap untuk prosesnya. Lampu-lampu operasi yang bundar dipindahkan tepat diatas istri saya yang sedang mengalami masa paling menyakitkan dalam hidupnya. Sebuah baki alumunium, sarung tangan karet sekali pakai, masker dan tangan saya yang ditarik-tarik kencang oleh istri saya mulai bersinar. Ujung kepala pun mulai terlihat keluar, namun masuk kedalam lagi. Seperti malu atau mengintip sejenak pada dunia untuk kemudian mengambil amunisi lebih didalam perut agar siap menghadapinya..? Tak taulah, apa yang dipikirkan surge kecil ku itu. Tapi tak selang lama ia keluar dengan kepala tegapnya ynag kecil, menunggu pertolongan dari seorang bidan menarik lehernya dan mengeluarkan anggota tubuhnya yang lain. Sangat cepat waktu itu, hanya beberapa detik dan manusia kecil ini pun menangis, hingga dunia dan beberapa bintang harus menutup telinga mereka.

Tangan saya yang gemetar teringat instingnya untuk mengambil kamera. “Sebentar bu, saya mau foto dulu ya..”, saya bilang pada bidan yang berjasa itu. Satu, dua, tigaaaa.. Matahari pun tersenyum dan berpose cantik untuk saya.. :)


Jogja 7 Oktober 2008

Saya bukan lah pendo’a, bahkan saya mungkin tidak menyenangi adanya agama yang hanya menimbulkan perbedaan palsu pada manusia. Namun hari ini saya hanya mampu mengucapkan kepada apapun Kau diatas sana.., rasa terima kasih dan memohon untuk perlindungan akan kebaikan diri untuk anak saya dalam meninju congkaknya dunia ini.

Selamat Hari Istimewa Matahari ku..

With Love

Pa..


Kue Ulang Tahun


Bersama Dewa dan Gavan tiup lilin


Mama yang selalu ada.. :)


Hidangan kecil kami


Kenyaaaang :D

Thursday, September 30, 2010

Saturday, September 25, 2010

the Sound of Music at September


I took this picture at the glass door of my Studio. With accompaniment from the smith and September rain cloud, my wife and kids danced and joked. A majestic sense of time.

Friday, September 03, 2010

Refleksi Daus Adrian at Foto Berita dot Com

I'm on fotoberita.com.. :D



Setelah beberapa tahun sempat tinggal di Jogja,
Daus Adrian lebih sering berkomunikasi dengan publik melalui karya-karya foto. Terutama ketika dia sedang merasakan ketidakadilan.

Daus Adrian adalah sosok seniman yang berani melakukan eksperimen gila meskipun terkadang dirinya terbentur oleh ketidak- nyamannya ketika melihat kaum marjinal masih yang dimarjinalkan.

Melalui karya-karyanya,
Daus Adrian mencoba memberikan kabar kepada kita apa yang sebenarnya terjadi.


http://fotoberita.com/index-dausadrian.html

Sunday, August 29, 2010

Photographic Power

Ide project ini adalah untuk menciptakan karya dokumentasi sederhana, untuk menghargai dan memahami kekuatan dari karya foto pada masyarakat. Karena dari semua jenis media seni yang ada, menurut kami fotografi adalah karya yang paling fleksibel, real dan monumental untuk kebutuhan publik dan terutama untuk kepentingan yg paling pribadi. Dan kami melihat hal tersebut dapat terwakili dengan melihat isi dompet sesorang.
Selain itu, akhir-akhir ini pun kami mendapat banyak pertanyaan mengenai ke-monumental-an suatu karya seni. Mengapa karya tersebut dapat disebut monumental..?, apakah karya yang bersifat monumental itu harus lah megah, terkenal, indah dsb..? Atau ke-monumental-an karya adalah suatu hal yang personal, dalam bentuk apapun itu..? Seperti foto sederhana dari seseorang / sesuatu yang anda cintai di dalam dompet anda.. Yaah apa pun itu deh.. high art, low art..????
Jadi bila anda ada yang berminat, dengan sangat terhormat dan senang kami akan mengambil foto anda beserta isi dompet anda.. :D.. Karena untuk kami pribadi, selain untuk mendokumentasikan kekuatan foto ini, kami juga ingin memperluas persahabatan dengan orang-orang yang kami foto sebanyak-banyaknya.
Semoga menjadi sesuatu..


Terima kasih..

Karya-karya ini dihasilkan oleh daus & ladythaborine adrian
©2010 daus n tha photography



Adit & his friends


Officers Yulianto & his driver license


Vita & her Self


Athe & her self


Sina & her I.D


Heri & his late son


Sulaiman & his Ex-Girl Firend


Ismed & his Wedding Moment


Monica & her Son


Tri & her Self & her ex-Boyfriend


Mia & her ID


Mr. Dony & his Fiance

More & Complete Photos check out:
Photo Power at Multiply



Friday, August 27, 2010

PUBLISH for JPG MAGAZINE issue 22.. :D

Siang tadi saya mendapatkan kebanggaan, yaaah kebanggaan yang setidaknya untuk dirasakan sendiri. Saat membuka website jpgmag, tiba-tiba saya terkaget dengan adanya logo hijau diantara keterangan foto-foto saya.. Logo tersebut menginformasikan bahwa karya saya telah diterbitkan pada majalah JPGMAG edisi 22..
Setelah sekian lama melanglang buana mengunggah dan mengunduh foto-foto, akhirnya sebuah karya pun ter PUBLISH oleh majalah (yang setidaknya saya sendiri anggap) bergengsi..
Jelas saya senang sekali..
Thanx.. :)


Check Out..:
http://jpgmag.com/magazine/22
http://jpgmag.com/photos/2404638







Wednesday, August 18, 2010

tragedi

apa yg diharapkan dalam hidup ini adalah kekosongan dan kebohongan
tragedi yang tak berakhir, hingga ia menyamarkan dirinya sebagai kebahagiaan

disini, aku berharap kebodohan ku akan berubah cepat menjadi suatu kegilaan, bahkan kematian..

sosok-sosok pintar mereka hanya memanfaatkannya untuk membangun persepsi yg hina..!

disini, aku berharap rasa sakit adalah teman yang mengajakku tidur ditengah ladang ganja berwarna biru..
tenang...
dan hilang..

aku rindu kamu saudaraku
yang kulihat dari kejauhan hanyalah langkah-langkah mu memanggilku untuk bermain

dan aku ingat..
saat perjalanan kita merobek-robek kehidupan itu menjadi serpihan kertas yg tak berarti

dan aku ingat..
saat musik kita meraung dan menyayat senja kesedihan menjadi surga kebahagiaan

senyum.. apakah itu..? matahari..?
aku selalu cinta..

hidup adalah mati
dan keindahan hanyalah nama kosong tanpa jasad diluarnya..

fuck..!!!

Saturday, August 07, 2010

VERSACE








ya.. istri saya tercinta sekarang sudah mempunyai tato..
welcome to the club honey..

Wednesday, April 28, 2010

Imaji Riil


Saat dmana ruang dan waktu tidak membutuhkan keber-ada-an saya.. Maka fotografi pun akan memainkan peranannya sebagai pencitraan imaji nyata.
Itu saya yang bukan saya, namun itu sesungguhnya adalah saya yang terdapat dalam selembar kertas foto, biar rusak hingga terbakar, itu tetap saya yang bukan saya. Setiap mata yang melihat akan tau maupun tidak. Dan karenanya saya ada..

Hue.. hehuehauh..